Minggu, 17 April 2016

Tawasul



TAWASUL YANG MASYRU

1)      Dengan asma Allah dan sifat Allah
 ¬!ur âä!$oÿôœF{$# 4Óo_ó¡çtø:$# çnqãã÷Š$$sù $pkÍ5 ( (#râ‘sŒur tûïÏ%©!$# šcr߉Åsù=ムþ’Îû ¾ÏmÍ´¯»yJó™r& 4 tb÷rt“ôfã‹y™ $tB (#qçR%x. tbqè=yJ÷ètƒ ÇÊÑÉÈ  
Hanya milik Allah asmaa-ul husna, Maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. nanti mereka akan mendapat Balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. (al-A’raf: 180)
2)      Dengan iman dan amal shaleh
!$oY­/§‘ $oY¯RÎ) $oY÷èÏJy™ $ZƒÏŠ$oYãB “ÏŠ$oYムÇ`»yJƒM~Ï9 ÷br& (#qãYÏB#uä öNä3În/tÎ/ $¨YtB$t«sù 4 $oY­/u‘ öÏÿøî$$sù $uZs9 $oYt/qçRèŒ öÏeÿŸ2ur $¨Ytã $oYÏ?$t«Íh‹y™ $oY©ùuqs?ur yìtB ͑#tö/F{$# ÇÊÒÌÈ  
Ya Tuhan Kami, Sesungguhnya Kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): "Berimanlah kamu kepada Tuhanmu", Maka Kamipun beriman. Ya Tuhan Kami, ampunilah bagi Kami dosa-dosa Kami dan hapuskanlah dari Kami kesalahan-kesalahan Kami, dan wafatkanlah Kami beserta orang-orang yang banyak berbakti. (Ali Imran: 193)
3)      Dengan mentauhidkan Allah seperti tawasulnya Nabi Yunus as
#sŒur Èbq‘Z9$# ŒÎ) |=yd©Œ $Y6ÅÒ»tóãB £`sàsù br& `©9 u‘ωø)¯R Ïmø‹n=tã 3“yŠ$oYsù ’Îû ÏM»yJè=—à9$# br& Hw tm»s9Î) HwÎ) |MRr& šoY»ysö6ߙ ’ÎoTÎ) àMZà2 z`ÏB šúüÏJÎ=»©à9$# ÇÑÐÈ    
87. Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam Keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), Maka ia menyeru dalam Keadaan yang sangat gelap: "Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha suci Engkau, Sesungguhnya aku adalah Termasuk orang-orang yang zalim." (al-Anbiya: 87)
4)      Dengan menampakkan kelemahan, kebutuhan kepada Allah seperti perkataan Nabi ayub as
* šUq•ƒr&ur øŒÎ) 3“yŠ$tR ÿ¼çm­/u‘ ’ÎoTr& zÓÍ_¡¡tB •Ž‘Ø9$# |MRr&ur ãNymö‘r& šúüÏH¿qº§9$# ÇÑÌÈ  
Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: "(Ya Tuhanku), Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan yang Maha Penyayang di antara semua Penyayang". (al-Anbiya: 83)
5)      Tawasul dengan orang-orang shaleh yang masih hidup. Seperti yang dilakukan shabat Nabi waktu kekeringan, mereka meminta kepada Nabi saw agar mendoakan untuk mereka. Setelah Rasulullah saw wafat maka para shabat tidak datang kepada kuburan Rasulullah saw untuk hal itu tapi datang kepada Paman Nabi saw yaitu Abbas ra yang masih hidup.
6)      Tawasul dengan mengakui dosa, seperti Musa as berkata: “Ya Tuhanku”
tA$s% Éb>u‘ ’ÎoTÎ) àMôJn=sß ÓŤøÿtR öÏÿøî$$sù ’Í< txÿtósù ÿ¼ã&s! 4 ¼çm¯RÎ) uqèd â‘qàÿtóø9$# ÞOŠÏm§9$# ÇÊÏÈ  
Musa mendoa: "Ya Tuhanku, Sesungguhnya aku telah Menganiaya diriku sendiri karena itu ampunilah aku". Maka Allah mengampuninya, Sesungguhnya Allah Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (al-Qashash: 16)


TAWASUL YANG TIDAK SYAR’I

1)      Meminta do’a kepada orang yang sudah mati atau meminta syafa’atnya
2)      Tawasul dengan ja’ah (pangkat Nabi)
Disebabkan ada hadits: “Apabila anda meminta kepada allah mintalah dengan perantaraan pangkatku (Nabi) karena pangkatku di sisi Allah adalah besar.” Hadits ini bohong tidak ada sama sekali dalam kitab Muslim yang bersandar padanya (lihat Majmu al-fatawa 10/319)
3)      Tawasul dengan zat makhluk seperti dalam sya’ir ya Rabbi bil Musthafa ballig maqasidina : Ya Tuhanku dengan perantara al Musthafa (Nabi Muhammad saw) sampaikanlah maksud² kami. Contoh lagi shalawat Badar :
توسلنا بباسم الله وباالهادى رسول الله
(Al Hadi yaitu Nabi Muhammad saw)sebabnya kalau “ba” itu untuk sumpah atas nama makhluk itu tidak sah karena termasuk syirik. Ini penting karena termasuk akidah. Kalau “ba
Itu untuk sababiyah maka Allah tidak menjadikan permintaan dengan perantaraan makhluk itu sebagai sebab untuk diijabahnya do’a. Ada kutipan hadits Tabrani meriwayatkan dalam kitab ................. bahwa dulu pada zaman Rasulullah saw ada seorang munafiq (Abdullah bin Ubay) menyakiti/mengganggu orang mukmin. Maka sebagian mereka berkata (Abu Bakar) berkata : “Bangkitlah dengan kami, kami akan minta tolong kepada Rasul saw dari gangguan munafiq itu. Rasulullah saw bersabda :
انه لايستغاس بى وانما يستغاس با الله

Tks hadits ini berarti tidak boleh minta tolonng kepada Nabi saw meski Nabi mampu misalnya menghalangi ganguan orang munafiq tadi. Tapi nabi tidak melakukannya sebagai penjagaan akan terjaunya tauhid dan menutup jalan ke arah bahaya syirik.
4)      Tawasul dengan hak makhluk
Alasannya :
a.       Pertama tidak ada hak manusia yang mewajibkan Allah
وكان حقا علينا نصر المؤمنون
“Dan kami adalah berkewajiban menolong orang-orang mukmin” (ar-Ruum: 47)
b.      Hak yang Allah berikan kepada seorang hamba adalah hak khusus untuk hamba itu tidak ada hubungan dengan orang lain.
Adapun hadits yang ada perkataan “as aluka bihaqqis saa iliin” (aku mohon  kepada-Mu dengan hak orang-orang yang memohon). Hadits itu tidak shahih (لم يثبت) karena sanadnya ada Athiyah al Aubi yang komplek kedha’ifannya.

TAWASUL HAL SESAT TAPI DISANGKA BAIK

Menurut sebagian banyak pelaku Tarekat, misal Tarekat Tijamiah berupa menggelar kain putih dikelilingi orang-orang berdzikir dengan bacaan لااله الا الله  dan membacanya setelah maghrib. Dzikir adalah disyari’atkan, lafadz dzikir laa ilaaha ilallah seutama ucapan para Nabi dan lafadz itu lafadz paling utama. Tetapi ketetapan menggelar kain putih dan berkumpulya serta waktunya setelah maghrib untuk melakukannya secara berjamaah itu semua bid’ah.

HUKUM MEMBACA MANAQIB AL-JAELANI
Tanya : Apa hukumnya mengumpulkan orang tetangga untuk membaca riwayat hidupnya untuk mendapat cinta wali dan menghidangkan makanan untuk menghormati tamu?
Jawab : Mencintai Wali dan menghormat tamu adalah kebajikan-kebajikan. Tetapi menjadikan bacaan sebagai wasilah dan sajian sebagai adat ketika membaca itu adalah bid’ah yang mengarah kepada guluw (berlebih-lebihan/kultur dan berpuncak pada do’a pakai jaah (pangkat) Wali itu. Hal itu terlarang  oleh syara (Islam). Kadang-kadang musyrik seperti Istiqosah (minta tolong dengannya).

FATWA TENTANG TAREKAT NAQSABANDIYAH
Soal :     Apa hukum Islamnya menurut pengetahuan Tuan-tuan mengenai Tarekat Shufi umumnya dan Tarekat naqsabandiyah khususnya ?
Jawab : Banyak bid’ah pada jama’ah Sufi umumnya seperti dzikir jama’i (bersama-sama) dan dalam dengan suara satu dan dzikir mereka pada Allah dengan isim mufrad misalnya :          
(الله الله حي حي قيوم)
                Dan dzikir mereka dengan dhamir (هو) dan dengan kata “ah” dan dengan nasyid (nyanyian) atas nama dzikir banyak buruhnya, seperti istigosah kepada selain Allah minta bantuan orang mati kepada al Badawi As Syakili al jaelani. Khusus tentang Naqsabandiyah dengan ucapan Allah (الله) lafadz jalalah dalam wirid harian dengan gerakan hati serta jiwa menyerupai gerakan lisan tanpa menggunakan lisan dan murid minta kehadiran syaikhnya disertai keyakinan perantara hanyalah untuk keselamatan di hari kiamat.


Pernah penulis tanyakan kepada pelaku Tarekat Naqsabandi yang tingkat guru mursyid (tingkat muraqabah)apa amalan hariannya. Dijawab adalah lafadz allah seribu kali, لااله الا الله  seribu kali,   (لا موجود الا الله) seribu kali. Penulis katakan kalimat لا وجود الا الله banyak bertentangan dengan Islam. Tidak ada wujud selain Allah berarti semua adalah Allah, alam ini Allah, diri kita ini Allah. Yang berkeyakinan ini adalah tokoh Sufi HHHHHusain bin Mansur al Hallaj yang berpaham ittihad (menyatu dengan Allah). Ia sudah dibunuh di jembatan Baghdad tahun 309 H. Ini sama dengan paham wihdatul wujud /satunya wujud yaitu semua uni Allah yang menghasilkan wihdatul adyan (satunya agama, tauhid maupun syirik), tokohnya ialah Ibnu Arabi (560-638 H).




0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda